Menteri Pendidikan Memberikan Kelonggaran Sistem Zonasi, Kuota Siswa Berprestasi Naik 2 Kali Lipat

Jakarta, SKPKNew.com – Rancangan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, ditahun ajaran 2020/2021 memberikan kemelonggarkan sistem zonasi untuk penerimaan siswa baru. Komposisi dalam kuota dan akan diubah sehingga siswa-siswi yang berprestasi bisa memilih sekolah favorit sekolah yang di inginkan oleh siswa.

“Kita sadar, nggak semua daerah itu siap untuk suatu policy zonasi yang sangat rigid (kaku),” ucap Nadiem di Rapat Koordinasi Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Indonesia di Hotel Bidakara, Jl Jenderal Gatot Subroto, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (11/12/2019).

karna sistem zonasi sebelumnya membagi jatah-jatah kuota penerimaan siswa baru, yakni 80% kuota suatu sekolah diberikan untuk anak-anak yang bermukim di kawasan zonasi sekolah, 15% kuota untuk siswa yang berprestasi, dan 5% kuota untuk siswa perpindahan. Komposisi kuota ini akan diubah Nadiem supaya lebih longgar, khususnya untuk anak berprestasi yang memfavoritkan sekolah tertentu.

“Jadi dalam arahan kebijakan untuk ke depannya adalah sedikit kelonggaran kita memberikan di zonasi. Yang tadinya prestasi 15% sekarang jalur prestasi kami perbolehkan sampai 30%. Jadi bagi orang tua yang sangat semangat mem-push anaknya untuk mendapatkan angka-angka yang baik untuk mendapatkan prestasi yang baik, inilah menjadi kesempatan untuk mereka untuk mencapai sekolah yang mereka inginkan,” kata Nadiem.

Kuota untuk siswa yang berada dalam zonasi sekolah bakal dikecilkan. Bila sebelumnya kebijakan zonasi mengalokasikan 80% untuk siswa sekitar zona sekolah, kini Nadiem menurunkan jatah itu menjadi 50%. Kuota untuk jalur afirmasi untuk pemegang Kartu Indonesia Pintar tidak diubah Nadiem alias tetap 15%. Kuota untuk jalur perpindahan domisili orang tua juga tetap 5%.

 

Begini kuota sistem zonasi sekolah ala Nadiem:

50% untuk jalur zonasi
30% untuk jalur prestasi
15% untuk jalur afirmasi
5% untuk jalur perpindahan domisili orang tua.

Kebijakan zonasi dilandasi oleh semangat pemerataan pendidikan. Namun, menurut Nadiem, pemerataan tidak cukup dengan cara zonasi, tapi juga harus diimbangi pemerataan kualitas guru-guru. Kebijakan zonasi juga dilandasi semangat menghapus favoritisme sekolah. Namun kini, Nadiem ingin anak-anak berprestasi bebas menentukan sekolah idaman mereka karena kita melihat banyak anak-anak yang berprestasi karna keterbatasan sekolah favorit jadi apa yang sekolahan di inginkan kandas dan membuat mereka malas melanjutkan sekolah.

Kita mengharap setelah memberikan kebijakan dengan tambahan kuota agar anak-anak berlomba untuk berprestasi agar sekolahan yang diinginkan tercapai agar cita-cita mereka terwujud.

Dan ditambahkan Zonasi masih bisa mengakomodir anak-anak berprestasi. Kita memberi langkah pertama kemerdekaan belajar di Indonesia. kata Nadiem.

(Alred03)

 

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: