JAKARTA, SKPKNews.com – Berakhirnya masa pengabdian Prof. Dr. H. Herri Swantoro, S.H., M.H., sebagai Ketua Pengadilan Tinggi (PT) Yogyakarta menandai berakhirnya perjalanan panjang sekitar empat dekade dalam lingkungan peradilan.
Namun, purnabakti tidak serta-merta mengakhiri berbagai gagasan yang pernah dikembangkan selama menjalankan tugas. Salah satunya adalah keberadaan Majalah Dandapala yang lahir dari lingkungan Direktorat Jenderal Badan Peradilan Umum (Badilum) Mahkamah Agung.
Herri Swantoro tercatat menggagas Dandapala ketika menjabat sebagai Direktur Jenderal Badilum pada 2015. Media tersebut pada awalnya dirancang sebagai sarana komunikasi dan pertukaran informasi bagi hakim serta aparatur peradilan umum di berbagai daerah.
Nama Dandapala dipilih sebagai identitas media yang memuat berbagai informasi, pemikiran, dan tulisan terkait peradilan serta hukum. Pada masa awal penerbitannya, Dandapala hadir dalam bentuk majalah cetak dan diterbitkan secara berkala.
Seiring perkembangan teknologi informasi, pola penyampaian informasi di lingkungan peradilan turut mengalami perubahan. Dandapala kemudian bertransformasi dari media cetak menjadi platform digital melalui dandapala.com.
Transformasi tersebut membuat informasi yang sebelumnya disampaikan melalui edisi berkala dapat diakses melalui media digital. Perubahan format sekaligus memperluas jangkauan pembaca, tidak hanya di lingkungan peradilan umum, tetapi juga masyarakat yang memiliki perhatian terhadap isu hukum dan peradilan.
Perjalanan Dandapala menunjukkan bahwa sebuah gagasan kelembagaan dapat mengalami perubahan bentuk mengikuti perkembangan teknologi. Pergeseran dari media cetak ke digital menjadi bagian dari upaya mempertahankan fungsi komunikasi dan penyebaran informasi di tengah perubahan pola konsumsi informasi.
Setelah menjalani masa pengabdian sekitar empat dekade, Herri Swantoro memasuki masa purnabakti. Jabatan Ketua PT Yogyakarta menjadi bagian akhir dari perjalanan kedinasannya di lingkungan peradilan.
Berakhirnya masa jabatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk melihat kembali sejumlah gagasan yang pernah dikembangkan selama menjalankan tugas. Dandapala menjadi salah satu karya kelembagaan yang terus berkembang setelah dirinya tidak lagi menjabat sebagai Dirjen Badilum.
Keberlanjutan Dandapala di tengah perubahan teknologi menunjukkan bahwa keberlangsungan sebuah media tidak semata bergantung pada sosok penggagasnya. Pengelolaan, kebutuhan informasi, perkembangan teknologi, serta keberadaan pembaca turut menentukan bagaimana sebuah media dapat terus beradaptasi.
Purnabakti Herri Swantoro dengan demikian bukan menjadi akhir dari perjalanan gagasan yang pernah dimulainya. Dandapala masih hadir dalam format digital dan melanjutkan fungsi sebagai media informasi serta ruang publikasi mengenai hukum dan peradilan.
Bagi perjalanan lembaga peradilan, keberadaan media semacam ini menjadi bagian dari dokumentasi perkembangan pemikiran, kebijakan, dan aktivitas aparatur peradilan dari waktu ke waktu.
Raga boleh purna bakti, tetapi gagasan dapat terus berjalan ketika dirawat dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.
Editor: Ali Han












