Pendidikan

GPMB Ngawi Gaungkan Literasi Hijau, Menanam Kesadaran Lingkungan melalui Budaya Membaca

355
×

GPMB Ngawi Gaungkan Literasi Hijau, Menanam Kesadaran Lingkungan melalui Budaya Membaca

Sebarkan artikel ini

Ngawi-SKPKNews.com Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 dimaknai secara istimewa oleh Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Kabupaten Ngawi. Melalui kegiatan Literasi Lingkungan yang digelar di SLB Ngronggi, Minggu (7/6/2026), GPMB menegaskan bahwa literasi tidak hanya berfungsi mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam membangun kesadaran dan tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan.

Di tengah berbagai tantangan ekologis yang dihadapi dunia saat ini, budaya membaca dinilai memiliki peran strategis dalam menumbuhkan cara pandang yang lebih bijak terhadap alam. Pengetahuan yang diperoleh melalui literasi mampu melahirkan pemahaman, sementara pemahaman akan melahirkan kepedulian dan tindakan nyata.

Ketua GPMB Kabupaten Ngawi, Riana Fathonatul Qoidah, M.Pd., mengatakan bahwa literasi sejatinya bukan sekadar kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan memahami kehidupan dan mengambil peran dalam menciptakan perubahan yang positif.

“Membaca bukan hanya membuka halaman demi halaman buku, tetapi juga membuka mata hati dan kesadaran. Literasi yang sesungguhnya adalah literasi yang mampu menggerakkan seseorang untuk peduli, bertindak, dan menghadirkan manfaat bagi sesama serta lingkungan tempat kita hidup,” ujarnya.

Menurutnya, Hari Lingkungan Hidup Sedunia merupakan momentum refleksi bersama untuk memperkuat hubungan harmonis antara manusia dan alam. Bumi telah menyediakan ruang kehidupan, sumber pangan, air, udara, dan berbagai kekayaan alam yang menjadi penopang keberlangsungan hidup manusia. Karena itu, menjaga lingkungan bukan hanya sebuah pilihan, melainkan tanggung jawab moral seluruh elemen masyarakat.

Dalam konteks tersebut, komunitas literasi memiliki posisi penting sebagai agen perubahan sosial. Melalui buku, diskusi, karya tulis, dan berbagai aktivitas edukatif, nilai-nilai kepedulian lingkungan dapat ditanamkan sejak dini kepada generasi muda sehingga tumbuh menjadi budaya yang mengakar dalam kehidupan sehari-hari.

“Ketika anak-anak membaca tentang pentingnya menjaga sungai, menanam pohon, mengurangi sampah plastik, atau melestarikan keanekaragaman hayati, mereka sedang belajar menjadi warga dunia yang bertanggung jawab. Literasi menjadi jembatan yang menghubungkan pengetahuan dengan tindakan nyata,” jelasnya.

Riana menambahkan bahwa gerakan literasi masa kini harus mampu menjawab tantangan zaman, termasuk persoalan lingkungan hidup. Oleh karena itu, GPMB terus mendorong lahirnya gerakan Literasi Hijau yang tidak hanya meningkatkan minat baca masyarakat, tetapi juga membangun kesadaran kolektif untuk menjaga keberlanjutan bumi.

Melalui momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, GPMB Kabupaten Ngawi mengajak seluruh pegiat literasi, pendidik, pelajar, komunitas, dan masyarakat luas untuk menjadikan literasi sebagai gerakan perubahan yang membawa dampak nyata bagi lingkungan.

“Mari menjadikan membaca sebagai jalan menuju kesadaran, dan menjadikan kesadaran sebagai jalan menuju aksi. Sebab masa depan bumi tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kualitas pengetahuan dan kepedulian manusia yang menjaganya,” tegasnya.

Kegiatan yang berlangsung di SLB Ngronggi tersebut menjadi bukti bahwa gerakan literasi dapat hadir sebagai kekuatan moral dan edukatif dalam menjawab berbagai persoalan sosial maupun lingkungan. Dari ruang-ruang baca, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter peduli, bertanggung jawab, dan berkomitmen menjaga bumi untuk generasi mendatang.

“Literasi untuk Bumi, Pengetahuan untuk Masa Depan” bukan sekadar slogan, melainkan ajakan untuk menjadikan ilmu pengetahuan sebagai fondasi dalam merawat kehidupan dan mewariskan lingkungan yang lebih baik kepada anak cucu kelak.(AR)