NasionalPendidikanTerkini

Generasi Muda Jadi Penentu Masa Depan, Danpusterad Tekankan Pentingnya Bela Negara

28
×

Generasi Muda Jadi Penentu Masa Depan, Danpusterad Tekankan Pentingnya Bela Negara

Sebarkan artikel ini
Danpusterad Letjen TNI Mochamad Syafei Kasno saat Forum Kebangsaan bertajuk “Kesadaran Bela Negara Merupakan Pondasi Dasar Menuju Indonesia Emas” yang berlangsung di Aula Muhammad Toda Kodiklatad, Bandung, Kamis (13/8/2026).

Bandung, SKPKNews.com Upaya memperkuat kesadaran bela negara dinilai tidak cukup hanya mengandalkan peran institusi pertahanan. Seluruh lapisan masyarakat, termasuk generasi muda, memiliki tanggung jawab dalam menjaga persatuan dan ketahanan bangsa di tengah perubahan lingkungan strategis yang semakin kompleks.

Pesan tersebut disampaikan Danpusterad Letjen TNI Mochamad Syafei Kasno saat Forum Kebangsaan bertajuk “Kesadaran Bela Negara Merupakan Pondasi Dasar Menuju Indonesia Emas” yang berlangsung di Aula Muhammad Toda Kodiklatad, Bandung, Kamis (13/8/2026).

Kegiatan yang menjadi bagian dari Program Unggulan Kasad Jenderal TNI Maruli Simanjuntak itu diikuti 526 peserta dari berbagai unsur masyarakat. Peserta terdiri atas tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda, mahasiswa, pelajar hingga perwakilan LSM.

Dalam forum tersebut, Syafei menegaskan bahwa bela negara merupakan tanggung jawab bersama dan tidak identik dengan tugas militer semata.

«“Bela negara bukan hanya tugas TNI, tetapi hak dan kewajiban seluruh warga negara,” tegasnya.»

Menurutnya, perkembangan situasi global menunjukkan bahwa ketahanan sebuah negara dapat menghadapi berbagai tekanan, tidak hanya melalui konflik bersenjata. Krisis politik dan ekonomi, konflik sosial, persoalan ideologi hingga melemahnya persatuan dapat menjadi faktor yang memengaruhi stabilitas suatu negara.

Ia mencontohkan pengalaman sejumlah negara, termasuk Yugoslavia pada awal dekade 1990-an, sebagai salah satu pembelajaran mengenai pentingnya menjaga faktor pemersatu dalam kehidupan berbangsa.

Di era digital, tantangan tersebut semakin beragam. Ancaman dapat muncul melalui penyebaran informasi yang tidak bertanggung jawab, konflik di ruang digital, pengaruh ideologi, tekanan ekonomi, hingga persoalan sosial dan budaya.

Karena itu, menurut Syafei, implementasi bela negara harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Sikap tersebut dapat tercermin melalui integritas, etika bermedia sosial, kepedulian terhadap lingkungan sekitar, kreativitas, semangat gotong royong, serta penghargaan terhadap identitas dan keberagaman Indonesia.

Di lingkungan TNI Angkatan Darat, penguatan hubungan dengan masyarakat dilakukan antara lain melalui Pembinaan Teritorial dan Kemanunggalan TNI dengan Rakyat.

Syafei juga mengingatkan bahwa keberagaman suku, bahasa, agama dan budaya merupakan kekuatan strategis Indonesia. Keragaman tersebut perlu dirawat melalui sikap saling menghormati, nasionalisme dan komitmen terhadap persatuan.

Sementara bagi generasi muda, tantangan yang perlu mendapat perhatian mencakup pemahaman nasionalisme yang tidak berhenti pada simbol, belum meratanya kesadaran bela negara, kecenderungan individualisme, rendahnya literasi sejarah serta derasnya pengaruh berbagai ideologi transnasional melalui teknologi digital.

«“Generasi muda adalah penentu masa depan Indonesia. Kesadaran bela negara bukan hanya tentang senjata dan seragam, tetapi tentang karakter, integritas, kepedulian, dan pengabdian kepada bangsa,” ujarnya.»

Forum Kebangsaan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Ruang dialog semacam itu dinilai penting untuk mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam membahas persoalan kebangsaan sekaligus membangun kesadaran bersama.

Melalui penguatan karakter, literasi kebangsaan dan semangat persatuan, masyarakat diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan yang berkembang sekaligus berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045 sebagai negara yang berdaulat, maju dan berdaya saing.

Reporter: Ali Han