JAKARTA, SKPKNews.com – Tentara Nasional Indonesia (TNI) kembali melanjutkan operasi modifikasi cuaca untuk mendukung penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di dua wilayah, yakni Palembang, Sumatera Selatan, dan Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Rabu (21/10/2026). Langkah ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam mendukung penanganan karhutla melalui pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca serta pengerahan dukungan udara dan logistik.
Operasi tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan kesiapan personel, dukungan peralatan, serta koordinasi lintas instansi. Di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan, upaya pengendalian tidak hanya diarahkan pada penanganan titik api, tetapi juga pada langkah pendukung untuk menciptakan kondisi cuaca yang berpotensi membantu proses pemadaman.
Berdasarkan keterangan Pusat Penerangan TNI (Puspen TNI), pelaksanaan operasi ini mengacu pada instruksi Panglima TNI agar pengerahan personel dan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) dioptimalkan untuk memperkuat penanggulangan karhutla di wilayah terdampak.
Dukungan tersebut mencakup pengerahan pesawat angkut militer untuk membawa bahan pendukung modifikasi cuaca, sekaligus memastikan kebutuhan logistik operasi dapat didistribusikan sesuai kebutuhan di lapangan.
Dari Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, TNI mengerahkan dua pesawat Hercules serta satu pesawat Airbus A400 untuk mendukung kebutuhan logistik operasi modifikasi cuaca di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan.
Pengerahan armada udara tersebut menjadi bagian penting dari dukungan operasional, mengingat kegiatan modifikasi cuaca membutuhkan ketersediaan bahan, peralatan penyimpanan, serta distribusi yang terkoordinasi menuju wilayah sasaran.
Panglima TNI menegaskan bahwa seluruh sumber daya yang tersedia harus dimanfaatkan secara optimal guna mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan.
“TNI optimalkan pelibatan personel dan Alutsista untuk mempercepat penanganan Karhutla,” tegas Panglima TNI sebagaimana dikutip dalam keterangan Puspen TNI.
Pernyataan tersebut menegaskan komitmen TNI untuk mendukung penanggulangan karhutla melalui kesiapan personel dan sarana pendukung. Namun, efektivitas penanganan di lapangan tetap memerlukan sinergi dengan instansi terkait, termasuk pihak yang memiliki kewenangan dalam pengendalian kebakaran dan pengelolaan wilayah terdampak.
Dalam pelaksanaan operasi pada Rabu (21/10/2026), pesawat Hercules yang menuju Palembang membawa 1,2 ton dry ice atau es kering serta lima ton natrium klorida (NaCl), yang dikenal sebagai garam.
Sementara itu, pesawat Hercules yang mendukung operasi di wilayah Banjarmasin membawa 1,2 ton dry ice. Bahan-bahan tersebut disiapkan untuk menunjang pelaksanaan modifikasi cuaca sesuai kebutuhan operasi di masing-masing wilayah.
Selain pengiriman bahan, pesawat Airbus A400 mengangkut empat kontainer yang digunakan untuk penyimpanan dry ice. Ketersediaan kontainer ini menjadi bagian dari dukungan logistik agar bahan yang diperlukan dapat ditangani dan disiapkan sesuai kebutuhan operasional.
Pengangkutan berbagai bahan dan peralatan tersebut memperlihatkan bahwa operasi modifikasi cuaca memerlukan dukungan yang tidak sederhana. Selain kesiapan pesawat dan awak, distribusi logistik juga harus diperhitungkan agar kegiatan dapat berjalan sesuai rencana.
Teknologi modifikasi cuaca merupakan salah satu upaya yang dapat digunakan untuk memengaruhi proses pembentukan dan pertumbuhan awan dalam kondisi atmosfer yang mendukung, dengan tujuan meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah sasaran.
Dalam konteks penanganan karhutla, hujan yang turun secara memadai di area terdampak berpotensi membantu membasahi vegetasi dan lahan yang mengering, mengurangi kondisi yang mendukung penyebaran api, serta mendukung upaya pemadaman yang dilakukan petugas.
Meski demikian, keberhasilan modifikasi cuaca tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan pengerahan pesawat dan bahan pendukung. Pelaksanaannya bergantung pada kondisi atmosfer, ketersediaan awan yang sesuai, serta faktor meteorologis lainnya.
Karena itu, operasi modifikasi cuaca perlu dipahami sebagai bagian dari strategi penanganan karhutla yang lebih luas, bukan sebagai satu-satunya solusi untuk menghentikan kebakaran.
Penanganan di lapangan tetap membutuhkan pemantauan titik api, patroli, pemadaman langsung, pendinginan area yang terbakar, serta langkah pencegahan agar api tidak kembali menyala. Koordinasi yang efektif antarlembaga juga diperlukan untuk memastikan setiap tindakan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan wilayah.
TNI menyatakan terus mendukung upaya terpadu penanggulangan karhutla bersama instansi terkait. Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas penanganan, terutama ketika kebakaran menimbulkan ancaman terhadap permukiman, aktivitas masyarakat, kesehatan, serta kelestarian lingkungan.
Di sisi lain, upaya pengendalian karhutla memerlukan keterlibatan berbagai unsur sesuai kewenangan masing-masing. Pemerintah daerah, instansi penanggulangan bencana, unsur pemadam kebakaran, aparat terkait, dan masyarakat memiliki peran penting dalam pencegahan maupun penanganan kebakaran.
Masyarakat juga perlu memperoleh informasi yang jelas mengenai perkembangan kondisi karhutla, potensi dampak asap, serta langkah-langkah pencegahan yang harus dilakukan. Penyampaian informasi yang akurat dan terukur menjadi bagian penting untuk menghindari kesimpangsiuran sekaligus meningkatkan kewaspadaan publik.
Dalam situasi seperti ini, keterbukaan informasi mengenai pelaksanaan operasi, perkembangan kondisi lapangan, serta hasil yang dicapai menjadi penting untuk memastikan masyarakat memperoleh gambaran yang proporsional mengenai upaya penanggulangan yang sedang berlangsung.
Kelanjutan operasi modifikasi cuaca di Palembang dan Banjarmasin memperlihatkan adanya dukungan berkelanjutan dari TNI dalam menghadapi ancaman karhutla. Pengerahan dua pesawat Hercules dan Airbus A400, disertai distribusi bahan serta peralatan pendukung, menjadi bagian dari upaya memperkuat pelaksanaan operasi.
Namun, ukuran keberhasilan penanggulangan karhutla pada akhirnya tidak hanya terletak pada jumlah pesawat yang dikerahkan atau bahan yang didistribusikan. Hasil di lapangan, seperti perkembangan titik api, kondisi wilayah terdampak, dampak terhadap masyarakat, serta efektivitas koordinasi antarlembaga, tetap menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan.
Evaluasi berkelanjutan diperlukan agar setiap langkah yang dilakukan dapat disesuaikan dengan kondisi aktual. Informasi mengenai curah hujan, perubahan kondisi kebakaran, dan perkembangan wilayah terdampak juga menjadi unsur penting dalam menilai manfaat operasi modifikasi cuaca.
Hingga keterangan Puspen TNI tersebut disampaikan, belum dicantumkan data kuantitatif mengenai hasil hujan yang dihasilkan ataupun perubahan jumlah titik api setelah pelaksanaan operasi. Oleh sebab itu, dampak konkret operasi di kedua wilayah masih memerlukan informasi lanjutan berdasarkan pemantauan dan evaluasi di lapangan.
Pada akhirnya, penanggulangan karhutla membutuhkan kerja bersama yang konsisten, terukur, dan berorientasi pada keselamatan masyarakat serta perlindungan lingkungan. Dukungan TNI melalui operasi modifikasi cuaca diharapkan dapat membantu upaya tersebut, dengan tetap mengedepankan koordinasi, ketepatan pelaksanaan, dan evaluasi terhadap hasil nyata.
Sumber: Pusat Penerangan TNI (Puspen TNI), Rabu, 21 Oktober 2026.
Editor: Ali Han
#TNIPRIMA
#TNIRAKYAT
#TNIPROFESIONAL
#INDONESIABERDAULAT












