DaerahPemerintahanTerkini

Wamendagri Titip Empat Pesan kepada Mahasiswa Untad untuk Percepat Penuntasan TB di Sulteng

17
×

Wamendagri Titip Empat Pesan kepada Mahasiswa Untad untuk Percepat Penuntasan TB di Sulteng

Sebarkan artikel ini
Pesan tersebut disampaikan Wiyagus saat menghadiri kegiatan Percepatan Penuntasan TB di Universitas Tadulako, Sulawesi Tengah, Sabtu (22/8/2026).

PALU, SKPKNews.com – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus mendorong mahasiswa Universitas Tadulako (Untad) mengambil peran aktif dalam mempercepat penanggulangan tuberkulosis (TB) di Sulawesi Tengah.

Pesan tersebut disampaikan Wiyagus saat menghadiri kegiatan Percepatan Penuntasan TB di Universitas Tadulako, Sulawesi Tengah, Sabtu (22/8/2026).

Dalam kesempatan itu, Wiyagus menitipkan empat peran strategis kepada mahasiswa. Pertama, menjadi agen skrining awal di lingkungan keluarga. Kedua, mendampingi pasien agar tidak mengalami putus obat sekaligus membantu mengurangi stigma terhadap penderita TB.

Ketiga, mahasiswa didorong menjadi penggerak kampanye digital serta menghasilkan riset dan inovasi yang mendukung penanggulangan TB. Keempat, mahasiswa diharapkan terlibat secara langsung dalam upaya pencegahan dan penanganan TB di desa melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Wiyagus juga mengapresiasi program Berani Magaya yang digagas Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Untad. Menurutnya, program tersebut menunjukkan kepedulian generasi muda Sulawesi Tengah terhadap persoalan kesehatan masyarakat.

“Program Berani Magaya adalah bukti bahwa generasi muda Sulawesi Tengah tak hanya menjadi penonton, kemudian tidak hanya berdiam diri tetapi turun langsung ke lapangan menjaga kesehatan keluarganya dan menyayangi masyarakatnya dari ancaman TB,” ujar Wiyagus.

Ia menegaskan, keterlibatan mahasiswa harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab pemerintah daerah. Menurut Wiyagus, pelayanan kesehatan merupakan urusan pemerintahan wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar sehingga pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota memiliki kewajiban menjalankan penanggulangan TB sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM).

Wiyagus juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Kondisi geopolitik global yang dapat memengaruhi rantai pasok obat-obatan menjadi salah satu alasan penanganan TB tidak bisa hanya bertumpu pada Kementerian Kesehatan.

Pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, mahasiswa, serta berbagai elemen masyarakat perlu bergerak bersama agar penanggulangan TB dapat berjalan lebih efektif.

“Kita tidak butuh superman, yang kita butuhkan adalah super team sehingga apa pun masalahnya bisa diselesaikan dalam rangka menuju masyarakat adil dan makmur,” tegasnya.

Wiyagus berharap model penanganan TB berbasis kampus yang dikembangkan Untad dapat diterapkan oleh perguruan tinggi lainnya. Perluasan peran kampus dan generasi muda dinilai dapat memperkuat gerakan penanggulangan TB sekaligus mempercepat pencapaian target eliminasi penyakit tersebut.

Dengan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi dan masyarakat, upaya penuntasan TB di Sulawesi Tengah diharapkan semakin terarah, masif, dan berkelanjutan.

Editor: Ali Han
Puspen: Kemendagri