Jakarta, SKPKNews.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sudah sejak lama mengalami kesulitan untuk mengelola sampah yang diperkirakan 7.000 s/d 8.000 ton setiap harinya.
Terkait dengan itu, Pemprov sebenarnya sudah melakukan berbagai upaya terintegrasi untuk mengatasi permasalahan sampah, mulai dari pengelolaan di sumber hingga teknologi pengolahan di hilir.
Berdasarkan data per April 2026, fokus utama Pemprov DKI adalah mengurangi beban TPST Bantargebang melalui pendekatan berbasis teknologi dan partisipasi warga.
Berikut adalah upaya-upaya utama Pemda DKI Jakarta dalam mengatasi sampah:
Penerapan Refuse Derived Fuel (RDF) Plant:
Pemprov DKI menggunakan teknologi RDF untuk mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif setara batubara yang digunakan oleh industri.
RDF Plant di Bantargebang sudah beroperasi, dan pembangunan RDF kedua di Rorotan, Jakarta Utara, terus dipersiapkan untuk mengurangi tumpukan sampah.
Optimalisasi Jakarta Recycle Center (JRC):
Sistem ini mengedepankan pemilahan sampah dari sumbernya (rumah tangga) agar sampah yang dibuang ke TPA dapat berkurang.
Terkait JRC, Gubernur Pranono Anung langsung menyampaikan himbauannya kepada warga Jakarta agar sejak dini semua warga memilah sampah dengan empat langkah, berkomitmen dalam perubahan secara serius dan mendasar terhadap sistem pengelolaan sampah di Jakarta.
Gubernur mengajak seluruh warga Jakarta untuk berpartisipasi dalam gerakan pilah sampah dari sumbernya.
Gerakan pilah sampah empat langkah yang dimaksud adalah sbb:
1. Sampah mudah terurai yang dapat dikelola menjadi kompos.
2. Sampah yang dapat didaur ulang seperti plastik, kertas dan logam yang dapat disalurkan ke bank sampah.
3. Sampah B3 (bahan berbahaya) atau beracun.
4. Sampah residu yang tidak dapat diolah kembali.
Pramono Anung mengajak seluruh warga Jakarta memiliki kesadaran untuk memilah sampah sebagai kebiasaan baru.
Hal ini diyakini akan mendatangkan hasil yang maksimal, dimana sampah tidak lagi menjadi musuh alam, tetapi bisa diolah menjadi sumber daya terbarukan.
Dalam prakteknya, Warga didorong untuk memisahkan sampah organik, anorganik, dan sampah berbahaya sejak dari rumah.
Disamping itu, Pemprov Jakarta juga menyediakan layanan jemput sampah berukuran besar secara gratis (kasur, sofa, lemari, kulkas) melalui website DLH Jakarta, yang kemudian dikelola melalui saringan sampah TB Simatupang.
Penguatan Bank Sampah:
Pengaktifan dan penguatan bank sampah di lingkungan RW terus dilakukan untuk memilah dan mendaur ulang sampah anorganik, sekaligus memberikan nilai ekonomis bagi warga.
(sutan)












